Pages

Jumat, 23 Maret 2012

Fase-fase Bulan dan Sudut Elongasi Bulan

A. Gerak dan Peredaran Bulan
            Bulan adalah benda langit yang paling dekat dengan bumi dan merupakan satelit bumi yang berdiameter 3.840 km. Sebagaimana bumi, bulan juga mempunyai dua gerakanyang penting. Yaitu gerak Rotasi dan Revolusi bulan.

1. Rotasi Bulan
            Rotasi adalah perputaran bulan pada porosnya dari arah barat ke timur. Dalam satu kali berotasi bulan memerlukan waktu sama dengan satu kali revolusinya mengelilingi bumi. Artinya, dalam satu kali putar mengelilingi bumi bulan hanya melakukan satu kali rotasi, ini yang menyebabkan permukaan bulan yang dilihat di bumi hanya satu permukaan itu saja. Pergerakan bulan dari barat ke timur dapat kita lihat pada kedudukan bulan pada saat matahari terbenam pada suatu hari dan dibandingkan dengan hari berikutnya maka kedudukan bulan akan semakin tinggi, artinya bulan itu bergerak ke arah timur.
2. Revolusi Bulan          
            Revolusi adalah peredaran bulan mengelilingi bumi dari arah barat ke timur, satu kali putaran penuh revolusi bulan memerlukan waktu rata-rata 27 hari 7 jam 43,2 menit, periode waktu ini disebut waktu bulan Sideris (sideris month) atau disebut juga Syahr Nujumi. Gerakan revolusi bulan ini digunakan sebagai dasar dan pedoman dan perhitungan bulan dan tahun Qamariyah (tahun Hijriyah), akan tetapi waktu yang digunakan bukan waktu Sideris, melainkan waktu bulan Sinodis, (Synodik Month) yang disebut juga Syahr Iqtirani, yaitu waktu yang ditempuh bulan dari posisi sejajar (iqtiran) antara matahari, bulan dan bumi keposisi sejajar berikutnya. Waktu iqtiran ditempuh rata-rata 29 hari 12 jam 44 menit 2,8 detik sama dengan 29, 53058796 hari atau dibulatkan menjadi 29,531 hari.
            Bidang yang dipakai bulan dalam mengelilingi bumi disebut Falakul Qamar yang memotong bidang ekliptika sebesar 05˚08′52′′. Dengan demikian, bidang edar bulan tidak berimpit dengan bidang edar bumi. Jika kedua bidang itu berhimpit maka setiap bulan akan terjadi 2 kali gerhana, yaitu gerhana matahari pada awal bulan dan gerhana bulan pada pertengahan bulan. Walau demikian, gerhana matahri atau bulan setiap tahun masih sering terjadi 3 atau 4 kali. Hal ini disebabkan kecilnya sudut potong antara dua bidang edar tersebut. Teerjadinya gerhana tersebut tidak dapat dilihat dari semua tempat di belahan bumi.
            Akibat gerakan itu, maka bentuk semu bulan kadang-kadang nampak dan kadang-kadang tidak nampak. Perubahan bentuk bulan itu adalah sebagai berikut:
Bulan mati(muhaq) → bulan Baru(hilal)→ Kwartir I→ bulan purnama(badr)→ Kwartir II→bulan mati lagi. Bentuk-bentuk ini disebut juga fase-fase bulan, untuk fase-fase bulan ini yang dijelaskan selanjutnya lebih dalam lagi.
            Selain berrevolusi mengelilingi bumi, bulan bersama bumi mengelilingi matahari dalam satu tahun dari arah barat ke timur dengan periode 365 hari 6 jam 9 menit 10,02 detik (365,256366 hari).

B. Fase-fase Bulan
           Bulan merupakan salah satu benda langit yang tidak mempunyai sinar sendiri. Bulan tampak bercahaya karena memantulkan sinar yang diterima dari matahari. Dari hari ke hari bentuk dan ukuran cahaya bulan itu berubah-rubah sesuai dengan posisi bulan terhadap matahari dan bumi. Pada saat bulan persis antara bumi dan matahari-yaitu saat ijtima’/iqtiran(yang berarti berkumpul atau bertemu)-maka seluruh bagian bumi tidak menerima sinar matahari sedang persis menghadap kebumi. Akibatnya pada saat itu bulan tidak tampak dari bumi yang diistilahkan dengan Muhak atau bulan mati.
            Ketika bulan bergerak, maka ada bagian bulan yang menerima sinar matahari terlihat dari bumi. Bagian bulan ini yang terlihat dari bumi sangat kecil dan membentuk bulan sabit.itulah yang dikenal dengan Hilal awal bulan. Semakin jauh bulan bergerak meninggalkan ijtima’ semakin besar pula cahaya bulan yang tampak dari bumi. Sekitar tujuh hari kemudian sesudah bulan mati, bulan akan tampak dari bumi dengan bentuk setengah lingkaran. Itulah yang disebut dengan Kwartir I atau  Tarbi’ awal.
            Pada akhirnya sampailah bulan pada titik tejauh dari matahari dan secara penuh menghadap ke matahari yang disebut dengan saat istiqbal. Pada saat istiqbal, bumi persis  sedang berada antara bulan dan matahari. Bagian bulan yang sedang menerima sinar matahari hampir seluruhnya terlihat dari bumi, akibatnya bulan tampak seperti bulatan penuh yang dinamakan Badr atau bulan purnama. Setelah itu bulan bergerak terus dan bentuk bulan semakin mengecil. Sekitar tujuh hari kemudian setelah purnama bulan akan tampak dalam bentuk setengah lingkaran lagi itulah yang disebut dengan Kwartir II atau Tarbi’ Sani. Akhirnya sampailah pada saat ijtima’ kembali menjelang bulan berikutnya dimana sama sekali tidak tampak dari bumi(bulan Mati).
            Dengan demikian secara singkat fase-fase bulan dalam konteks perjalanan satu bulan penuh meliputi:
1.      Bulan mati (muhaq), yaitu ketika terjadi peristiwa ijtima’ antara bulan        dan matahari.
2.      Hilal Awal Bulan, yaitu ketika bulan meninggalkan matahari pada hari tanggal 1,2 sampai 3
3.      Tarbi’ Awal (Kwartir I), yaitu setelah bulan meninggalkan matahari pada perempatan pertama dalam ukuran sudut/busur, fase ini terjadi pada hari tanggal 6,7 sampai 8
4.      Badr (bulan purnama), yaitu ketika terjadi peristiwa istiqbal , semua permukaan bulan menghadap matahari,fase ini terjadi pada hari tanggal 13,14, sampai 15
5.      Tarbi’ sani(Kwartir II), yaitu bulan meninggalkan matahari setelah terjadi peristiwa istiqbal. Fase ini terjadi pada hari tanggal 21,23 sampai 24
6.      Hilal Akhir Bulan, yaitu fase di mana sinar bulan berbentuk sabit (hilal) pada akhir bulan. Fase ini terjadi pada hari tanggal 27, 28 sampai 29. Akhirnya sampailah pada saat ijtima’ kembali menjelang bulan berikutnya dimana sama sekali tidak tampak dari bumi(bulan Mati).
            Perubahan bulan secara periodek itu digunakan untuk melakukan perhitungan kalender hijriyah yang dasar perhitungannya menggunakan peredaran bulan sehingga kalender ini dikenal pula dengan nama Lunar Calender atau tarikh qamariyah.

 C. Sudut Elongasi Bulan
            Elongasi atau biasa disebut Angular Distance adalah jarak sudut antara Bulan dan Matahari. Dalam bahasa Arab disebut al-Bu’du az-Zawiy sedangkan dalam kitab Sullamun Nayyirain diistilahkan dengan Bu’du Baina an-Nayyirain.
            Selain melakukan rotasi, bulan juga mengelilingi bumi, bulan bersama bumi mengelilingi matahari dalam satu tahun dari arah Barat ke Timur. Dengan berputarnya benda-benda langit tersebut pada manzilah-manzilahnya masing-masing, ada beberapa fenomena alam yang sangat menarik yaitu ijtima’ sebagai penanda awal lahirnya bulan baru, Oposisi, dan Kuarter yang membentuk sudut elongasinya masing-masing:
1.      Konjungsi, bila kedudukan bulan searah dengan matahari, pada saat itu bagian bulan yang menghadap bumi adalah bagian yang gelap sehingga kita tidak dapat melihat bulan bercahaya. Pada kondisi tertentu posisi konjungsi ini dapat menimbulkan terjadinya gerhana matahari. Konjungsi ini pula yang merupakan fenomena awal terjadinya pergantian bulan dalam perhitungan kalender Hijriyah yang dalam istilah lain dikenal dengan sebutan “ijtima’”. Pada posisi konjungsi ini sudut elongasi  bulan bernilai 0˚
2.      Oposisi yaitu kedudukan bulan yang berlawanan arah dengan matahari bila dilihat dari bumi. Pada posisi inilah bulan cahayanya penuh atau bulan tampak sebagai bulan purnama. Pada posisi tertentu posisi Oposisi ini dapat menimbulkan terjadinya gerhana bulan. Pada posisi ini sudut elongasi  bulan bernilai 180˚
3.      Kuarter yaitu kedudukan bulan tegak lurus terhadap garis penghubung bumi matahari. Pada fase ini bulan terlihat setengan , hanya setengah bulan yang terang bila dilihat  dari bumi.fase bulan Kuarter ini terjadi dua kali yaitu ketika bulan akan bertambah besar , bagian bulan yang terlihat pada kuarter pertama ini adalah dibagian barat  dan ketika bulan bertambah kecil, bagian bula yang terang adalah dibagian timur. Pada kuarter pertama sudut elongasi bulan bernilai 90˚ dan kuarter kedua bernilai 270˚

D. Kesimpulan
*    Bulan adalah benda langit yang paling dekat dengan bumi dan merupakan satelit bumi yang berdiameter 3.840 km
Pergerakan Bulan ada dua:
1.      Rotasi adalah perputaran bulan pada porosnya dari arah barat ke timur.
2.      Revolusi adalah peredaran bulan mengelilingi bumi dari arah barat ke timur. Selain berrevolusi mengelilingi bumi, bulan bersama bumi mengelilingi matahari dalam satu tahun dari arah barat ke timur dengan periode 365 hari 6 jam 9 menit 10,02 detik (365,256366 hari)
* Periode waktu bulan Sideris: satu kali putaran penuh revolusi bulan memerlukan waktu rata-rata 27 hari 7 jam 43,2 menit
            Periode waktu bulan Sinodis: Waktu yang ditempuh rata-rata 29 hari 12 jam 44 menit 2,8 detik sama dengan 29, 53058796 hari atau dibulatkan menjadi 29,531 hari.
            Fase-fase Bulan: Bulan mati(muhaq) → bulan Baru(hilal)→ Kwartir I→ bulan purnama(badr)→ Kwartir II→bulan mati lagi
*    Sudut Elongasi Bulan:
            1. Elongasi 0˚ ketika terjadi konjungsi
            2. Elongasi 90˚ ketika pada kwartir I
            3. Elongasi 180˚ ketika oposisi
            4. Elongasi 270˚ ketika pada kwartir II

Daftar Pustaka  
Depag RI, Almanak Hisab Rukyat, Jakarta: Proyek Pembinaan Bapera, 1981
Maskufa, Ilmu Falaq, Jakarta: Gaung Persada (GP Press), 2009
Moh. Murthado, Ilmu Falak Praktis, Malang: UIN-Malang Press, 2008 
Muhyiddin Khazin, Ilmu Falak dalam Teori dan Praktik, Yogyakarta: Buana Pustaka, 2004
--------------------Kamus Ilmu Falak, Yogyakarta: Buana Pustaka, 2005
Susiknan Azhar , Ilmu Falak(Perjumpaan Khazanah Islam dan Sains Modern) , Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2007
-------------------Ensiklopedi Hisab Rukyah, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons